BAIK TIDAK CUKUP BILA LEBIH BAIK MASIH MUNGKIN

Bermimpi untuk sukses? Jangan ngawur!!

In artikel, motivasi, renungan, umum on 8 Oktober 2009 at 19:00
Suatu hari Dorna memanggil murid-muridnya  untuk dicoba keterampilan menggunakan senjata panah. Sasarannya seekor burung yang hinggap di dahan pohon.
Satu persatu dipanggil dan diminta membidik sasaran, dimulai dari Yudhistira. Sebelum diperkenankan melepas panah sang guru bertanya dahulu: “Kau perhatikan  burung itu, coba lihat, selain burung apa kau lihat menurut pandanganmu?”
Yudhistira:  “Selain burung saya lihat batang pohon, wujud bapak guru dan keempat saudara saya.”  Sang guru mengulangi pertanyaan yang sama dan dijawab dengan jawaban yang sama pula. Dorna jengkel mendengar jawaban yang itu-itu juga, lalu katanya: “Sudahlah muridku, tak usah dilepas, tak bakal kena, ayo minggir.” tukasnya ketus.
Giliran Duryudana, sang guru bertanya dengan pertanyaan yang sama yang dijawab oleh Duryudana: “Selain burung saya lihat daun yang rimbun, kemudian dahan dan ranting, kemudian…..”
“Sudah, sudah, sama bodohnya, ayo minggir.” katanya jengkel. Demikian satu persatu para Kurawa dan Pandawa telah mendapat giliran, tetapi semua jawaban tidak satu pun yang memuaskan sang guru.
Terakhir giliran Arjuna lalu ditanya: “Apa yang kau lihat disana” “Burung,” jawab Arjuna.
“Selain burung apalagi yang kau lihat?”
“Saya tidak melihat apa-apa selain badan burung,” jawabnya. Mendadak wajah Dorna berseri “Coba lihat baik-baik apa warna bulunya dan sebutkan satu persatu warnanya.”
Arjuna hanya menjawab: “Sekarang hanya kelihatan kepalanya.”
Seketika sang guru memerintahkan: “Lepaskan anak panah itu.” Dan melesatlah anak panah membelah udara, suaranya bersuling tepat mengenai sasarannya hingga burung itu jatuh ke bumi, disambut tampik sorak para siswa tanda gembira atas keberhasilan Arjuna.”

Suatu hari Dorna memanggil murid-muridnya  untuk dicoba keterampilan menggunakan senjata panah. Sasarannya seekor burung yang hinggap di dahan pohon.
Satu persatu dipanggil dan diminta membidik sasaran, dimulai dari Yudhistira. Sebelum diperkenankan melepas panah sang guru bertanya dahulu: “Kau perhatikan  burung itu, coba lihat, selain burung apa kau lihat menurut pandanganmu?”
Yudhistira:  “Selain burung saya lihat batang pohon, wujud bapak guru dan keempat saudara saya.”  Sang guru mengulangi pertanyaan yang sama dan dijawab dengan jawaban yang sama pula. Dorna jengkel mendengar jawaban yang itu-itu juga, lalu katanya: “Sudahlah muridku, tak usah dilepas, tak bakal kena, ayo minggir.” tukasnya ketus.
Giliran Duryudana, sang guru bertanya dengan pertanyaan yang sama yang dijawab oleh Duryudana: “Selain burung saya lihat daun yang rimbun, kemudian dahan dan ranting, kemudian…..”
“Sudah, sudah, sama bodohnya, ayo minggir.” katanya jengkel. Demikian satu persatu para Kurawa dan Pandawa telah mendapat giliran, tetapi semua jawaban tidak satu pun yang memuaskan sang guru.
Terakhir giliran Arjuna lalu ditanya: “Apa yang kau lihat disana” “Burung,” jawab Arjuna.
“Selain burung apalagi yang kau lihat?”
“Saya tidak melihat apa-apa selain badan burung,” jawabnya. Mendadak wajah Dorna berseri “Coba lihat baik-baik apa warna bulunya dan sebutkan satu persatu warnanya.”
Arjuna hanya menjawab: “Sekarang hanya kelihatan kepalanya.”
Seketika sang guru memerintahkan: “Lepaskan anak panah itu.” Dan melesatlah anak panah membelah udara, suaranya bersuling tepat mengenai sasarannya hingga burung itu jatuh ke bumi, disambut tampik sorak para siswa tanda gembira atas keberhasilan Arjuna.”

Suatu ketika seorang kawan karib saya bertanya ,”Anda ingin sukses?”.  “Tentu saja!”, jawab saya cepat.  “Sukses seperti apa yang Anda impikan?”, dia bertanya lagi.  Saya berpikir sejenak sebelum menjawab “Sukses dunia akhirat”. “Terlalu umum jawabannya. Kurang spesifik.  Nanti akan sulit bagi Anda untuk mengambil tindakan yang tepat.”, katanya lebih lanjut.  Sebelum saya sempat bertanya lebih lanjut dia pergi karena ada tugas mendadak dari kantornya.

Semenjak itu saya berpikir apa yang dimaksud kurang spesifik?  Teringat akan cerita Baratayudha saat Arjuna berlatih panah dengan Dorna seperti yang saya tulis di atas.  Dari sekian banyak muridnya hanya Arjuna yang diperkenankan melepas busur panah, karena dia tahu hanya yang fokus kepada titik sasaran yang akan berhasil.

Mungkin ini yang dimaksud rekan saya untuk lebih spesifik dalam membuat impian.  Kita harus berani mengambil keputusan sukses seperti apa yang ingin kita raih. Setiap orang mempunyai indikator berbeda-beda untuk menyatakan dirinya sukses.  Ada yang mengunakan indikator punya rumah mewah, punya mobil, atau cukup punya sepeda motor. APAPUN IMPIAN ANDA,  NYATAKAN DENGAN JELAS.

Hal ini mengingatkan saya dengan tulisan saya yang terdahulu Rahasia Hati. Tiap orang punya impian.  Tiap orang punya ukuran berbeda untuk menyatakan dirinya sukses. Thomas Alfa Edison rela mengorbankan ribuan jam hidupnya hanya untuk mengejar impian berupa sebuah lampu yang menyala.  Impiannya mungkin hal sepele bagi orang lain tetapi impian itu yang membuatnya berusaha dengan semangat dan pantang menyerah.

  1. Arjuna pintar pula memanah hati wanita-wanita cantik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: