BAIK TIDAK CUKUP BILA LEBIH BAIK MASIH MUNGKIN

PUISI TERCECER Othonk Soe

Dalam artikel, cerita, kisah, renungan, umum di 12 Oktober 2009 pada 01:03

NIGHTWALKER(s)

Masih kutelusuri

sendiri

di bawah bayang lampu temaram

dingin yang tenang

membuka hati yang lapang

kurambah belantara malam

selami jurang kegelapan

gapai bintang yang enggan pulang

harusnya engkau di sini Kawan

bagai angin malam berlalu

datang sekejap bawa keceriaan

lalu hilang dibalik gelap malam

tanpa arah pasti kita jelang

kapan…

semua kan terulang

sementara masih kutelusuri jalan

sendiri

di bawah bayang lampu temaram

dan bulan yang enggan pulang

Bogor, Akhir November ’94


SILENCE OF THE WIND

biarkan ini berlanjut

biarkan mengalir bagai air

gemericik melewati batu

tenang melompati batu

mengalirlah

bawa aku padamu

hanya padamu……

Bogor, akhir November ’94

THROUGH THE EYES

hmmm….

ketika aku terdiam

kuarungi nalar dan angan

sambil kudengar celoth yang gagap

dan tawa lepas yang tak bermakna

sementara kumakin ke tepi batas yang tak jelas

walau denyut jantung kita masih bermakna

mengiringi langkahku yang tersisih

tak mengerti walau ku dengar

tak tampak walau ku pandang

kutembus cakrawala di mata kalian

tapi tak kutemukan apa-apa

atau karena ku tak tahu apa-apa lagi


hmmm…

kulanjutkan arungi nalar dan angan

tanpa kalian coba tuk mengerti

aku sudah di tepi


Bogor, akhir November ’94

BAD DAY

satu luka perasaan

terhempas

terhenyak

tak bisa mengerti

mengapa terjadi

sejenak membelai luka

tertatih gapai esok

yang mungkin

hingga sang waktu menutp segala

kubur luka beribu makna

walau tetap menganga

kemudian dilupa tanpa daya

(saat lelah menghantam di bawah mentari yang pulang)

Bogor, akhir November ’94

A CANDLE IN THE DARKNESS

tetes satu satu tak mampu menahan langkahku

menyibak malam

menuai jarak

bimbang yang tak jelas

membentang

menantang

sambil bersila kucanggung

merenung di tepi kegelapan

entah apa di depan

jurang nan dalam

hutan belukar

sungai beriak

entahlah

yang kutahu

hanya kicau parau tak tentu

nada sumbang dalam suara emas

merayuku untuk menyatu

entah apa di depan

biarkan ku di sini

merenung diri

pada pelita yang hampir padam

entah sampai kapan

(ya  Allah biarkan pelita Mu menerangi kami lebih lama lagi)

Bogor, akhir November ’94

TO BE BETTER

sebaiknya kita diam

nikmati detak jantungmu yang mulai karatan

dalam nafsu dan amarah yang kupendam

sebaiknya kita bisik bisik

ceritakan kenikmatan yang pernah kurasa

agar orang tenggelam dalam nikmat Nya

sebaiknya kita bicara

tumpahkan segala rasa

marah

suka

duka

kecewa

temukan hati yang resah

sebaiknya kita teriak

tunjukkan jati diri kehidupan

karena kita berbeda

jangan paksa suara busukmu

mengotori hati dan pikiranku

karena kita berbeda

sebaiknya…..

(biarkan ku dzikir mengenang kuasa Mu)

Bogor, akhir November ’94

ketika adzan Subuh menggema

dalam hati yang resah

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.